Latest Posts

MENGAPA KITA HARUS TAAT PADA PEMIMPIN?
Oleh : Sofyan Ats-Tsauri Amarta. S.Sos.I

Bila kita mengamati sejarah kehidupan manusia, dari zaman purbakala, zaman sebelum masehi, sesudah mesehi bahkan di era millennium sekarang ini pemimpin merupakan hal yang sangat penting keberadaannya.
Bangsa ini sejak pasca reformasi telah menghabiskan puluhan triliun hanya sekedar untuk memilih seorang pemimpin. Pada Pemilu 2004 tatal uang yang dihabiskan  untuk pemilu sekitar Rp 3,5 triliun untuk Pemilu DPR, DPRD I, DPRD II dan DPD serta Pemilihan Presiden (Pipres), dan pada Pemilu 2009 mengalami lonjakan yang sangat tajam. Menurut  catatan KPU menyebutkan total anggaran KPU dan Pemilu 2009 sekitar Rp 47,9 triliun. Anggaran tersebut dialokasikan untuk kebutuhan KPU dan Pemilu masing-masing sebesar Rp 18,6 triliun untuk tahun 2008, dan Rp. 29,3 triliun untuk proses Pemilu 2009.
Angka tersebut masih belum termasuk penyelenggaraan pemilukada di daerah-daerah baik di tingkat propinsi maupun di kabupaten/ kota. Andai uang tersebut dikumpulkan dalam sebuah rumah / ruko seperti di BMH Pusat, mungkin tinga lantai tidak cukup untuk menampungnya, asalkan uang tersebut adalah uang receh 100-an rupiah. Sungguh sangat banyak bukan?
Lalu yang menjadi pertanyaan sekarang adalah? Mengapa uang yang sebegitu besarnya dihabiskan iyu hanya untuk urusan yang demikian? Andai uang tersebut diberikan pada satu keluarga besar, mungkin 7 kali turunan tidak usah kerja, hidupnya tidur aja, dan semua serba dilayani, mungkin uang tersebut tidak akan habis bila untuk sekedar makan.
Akan tetapi bila kita melihat dengan kecamata lebih dalam, tentu esensi terbut bukan hanya untuk pesta-pesta rakyat belaka. Akan tetapi dari hasil tersebut diharapkan akan lahir seorang pemimpin yang mampu mengatur/ memberikan kebijakan/ mengarahkan rakyatnya menuju kehidupan yang damai, sejahtera dan berwibawa. Begitu pula Dalam kehidupan berkelompok, keberadaan pemimpin adalah hal yang sangat penting keberadaanya. Komunitas masyarakat terkecil yang disebut keluarga, keberadaan pemimpin menjadi sesuatu yang sangat utama, apalagi dalam sebuah komunitas/ organisasi seperti perusahaan atau yayasan, tentu pemimpin adalah hal mutlak yang harus ada. Fungsi pemimpin tersebut tiada lain adalah membuat sistem/ aturan yang dapat dijalankan secara bersama-sama sesuai dengan porsinya masing-masing. Berikut ini penulis akan jelaskan poin-poin penting tentang taat kepada pemimpin.
KEWAJIBAN TAAT ATASAN / PEMIMPIN
 Rosulullah SAW pernah bersabda: Artinya: Dari Ibnu Umar, dari Nabi SAW bersabda:” Atas setiap muslim harus mendengar dan taat terhadap sesuatu yang ia cintai atau benci, kecuali jika diperintah berbuat maksiat. Jikadiperintah bermaksiat maka tidak ada mendengar dan taat”(Muttafaqun alaihi)
Artinya: Dari Anas bin Malik dari Nabi SAW bersabda:” Dengar dan taatlah kalian walaupun dipimpin oleh seorang budak Habsyi dan kepalanya seperti buah anggur kering” (HR Bukhari)
Dari Abu Hurairah ra berkata:Rasulullah saw bersabda:” Hendaknya kamu mendengar dan taat pada saat engkau susah dan mudah, ketika engkau semangat atau tidak suka atau dalam keadaan punya kepentingan sendiri” (HR Muslim). Hadits-hadits yang membahas tentang taat itu banyak sekali dan begitu juga yang disebutkan dalam Al-Qur’an juga banyak diantaranya;
 Allah Swt berfirman:
$pkšr'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#þqãYtB#uä (#qãèÏÛr& ©!$# (#qãèÏÛr&ur tAqß§9$# Í<'ré&ur ͐öDF{$# óOä3ZÏB ( bÎ*sù ÷Läêôãt»uZs? Îû &äóÓx« çnrŠãsù n<Î) «!$# ÉAqß§9$#ur bÎ) ÷LäêYä. tbqãZÏB÷sè? «!$$Î/ ÏQöquø9$#ur ̍ÅzFy$# 4 y7Ï9ºsŒ ׎öyz ß`|¡ômr&ur ¸xƒÍrù's? ÇÎÒÈ  
“Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, makakembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benarberiman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya (QS. Annisa’:59)
 DEFINISI TAAT
Secara bahasa artinya mengerjakan sesuatu yang diperintahkan. Sedangkan secara syari’ah ialah beramal melaksanakan perintah disertai niat dan keyakinan. Berkata Al-Qurtubi:”Hakekat taat adalah melaksanakan sesuatu yang diperintahkan. Dan lawannya ma’shiyah artinya menyimpang dari perintah. Sedangkan Hasan Al-Banna berkata:” Yang saya kehendaki dari ketaatan ialah melaksanakan perintah dan merealisasikannya secara sepontan baik dalam kondisi susah atau mudah, dalam kondisi bergairah atau tidak”.
URGENSI / PENTINGNYA TAAT
Ketaatan merupakan pondasi hukum Islam dan kaidah sistem politik. Seseorang tidak mungkin dapat membayangkan adanya sistem yang benar dan negara yang kuat tanpa adanya keadilan dari penguasa dan ketaatan dari rakyatnya. Oleh karena itu sngat tepat apa yang dikatakan khalifah kedua umat Islam Umar bin Khattab:” Tidak ada Islam tanpa jamaah, tidak ada jamaah tanpa pemimpin dan tidak ada pemimpin tanpa ketaatan. Islam bukanlah agama individu, tetapi agama masyarakat yang tidak mungkin terealisasi kecuali melalaui jamaah. Dan jamaah tidak akan berarti sama sekali jika anggotanya tidak diikat oleh suatu sistem dan dihimpun oleh pemimpin yang mengatur urusan mereka. 
Sesungguhnya sikap mendengar dan taat merupakan dua pilar dari sistem hidup bermasyarakat. Dan keduanya merupakan tulang punggung dari manusia yang hidup dalam suatu bangsa dimana tidak mungkin bangsa tersebut menolak dan mengusir musuh, tentaranya akan menang jika tidak memiliki sikap mendengar dan taat yang merupakan satu kesatuan yang tidak dapat berpisah dari bangunan umat ini. Sehingga sikap mendengar dan taat adalah suatu yang mutlak harus dilakukan bagi bangsa yang ingin besar.
LANDASAN HUKUM TAAT KEPADA PEMIMPIN
Sesuai dengan nash yang telah dikemukakan diatas baik dari Al-Qur’an maupun sunnah, menyimpulkan bahwa Islam mewajibkan taat umat Islam untuk taat kepada pemimpin dan haram bagi umat Islam menyimpang dari ketaatan kepada pemimpin Islam. Nash lain yang mendukung perintah taat dan larangan menyimpang adalah:
Rasulullah saw bersabda: Dari Abu Hunaidah Wa’il bin Hajar ra berkata: Salamah bin Yazid Aj-Ja’fi bertanya pada Rasulullah saw dan berkata:” Wahai nabi Allah bagaimana pendapatmu jika pemimpin kami meminta kepada kami hak mereka dan tidak melaksanakan haknya (kewajibannya)?”. Rasulullah saw berpaling darinya, tetapi ia bertanya lagi, maka Rasulullah saw menjawab:” dengar dan taatilah (pemimpin tersebut) karena sesungguhnya mereka akan menanggung beban tanggung-jawab yang harus dilaksanakannya dan kamu juga akan bertanggung-jawab terhadap yang kamu perbuat“ (HR Muslim)   
BATASAN KETAATAN
Ketika Islam mewajibkan umat Islam untuk mentaati para pemimpin, Islam juga member batasan tentang ketaatan tersebut dan tidak membiarkanya berlaku mutlak tanpa ada batasan. Karena ketaatan mutlak akan melahirkan tirani dan kediktatoran sehingga akan menghapus nilai-nilai Islan dalam hidup bermasyarakat. Oleh karenanya ketaatan terhadap pemimpin dibatasai oleh ruang lingkup tertentu dan syarat-syarat tertentu yang harus ditunaikan. Dan diantaran batasan dan syurut tersebut adalah:
1. Pemimpin tersebut harus merealisasikan Syariat Islam, jika tidak melaksanakan Syariat Islam maka tidak ada kewajiban taat kepada pemimpin tersebut sesuai yang disebutkan Al-Qur’an dalam surat An-Nisaa’ ayat 59
2. Pemimpin tersebut tidak menyuruh manusia berbuat maksiat. Maka jika pemimpin menyuruh rakyatnya berbuat maksiat seperti minur khomr, riba, buka aurat dll, maka tidak ada kewajiban taat. Rasulullah saw bersabda: Tidak ada ketaatan dalam bermaksiat kepada Khalik (Allah)”(HR Ahmad dan Al-Hakim) 
3. Menegakkan hukum dengan adil, jika pemimpin melaksanakan keadilan maka wajib taat kepada mereka tetapi jika tidak adil maka tidak ada hak untuk ditaati, sebagaimana disebutkan  3 / 9Hadits Kewajiban Taat dalam surat An-Nisaa’ 59.  
4. Sesuatu yang diperintahkan mampu dilaksanakan oleh yang akan menanggung perintah tersebut.
Dari Abdullah bin Umar ra berkata: ”kami jika membai’ah Rasulullah saw untuk mendengar dan taat. Beliau berkata pada kami:”pada yang kamu mampu” (Muttafaqun ‘alaihi) 
KEUTAMAAN TAAT
1. Mendapatkan puncak kenikmatan bersama para nabi. Firman Allah: Artinya:” Dan barangsiapa yang menta`ati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni`mat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya” (QS An-Nisaa’ 69) 
2. Tidak terbuangnya kekayaan dunia dan mendapat keberkahan hidup. Firman Allah: Artinya: ”Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”(QS Al-A’raaf 96).
3. Mendapat tambahan hidayah. Firman Allah SWT: Artinya: ”Dan orang-orang yang berupaya mendapat petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan kepada mereka (balasan) ketakwaannya” (QS Muhammad 17). 
4. Mendapat keteguhan dalam taat. Firman Allah SWT. Artinya: ”Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu” (QS Muhammad 7).  
5. Mendapat pahala yang besar berupa keridhan Allah dan surga-Nya.  Firman Allah SWT. Artiny a: (Hukum-hukum tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barangsiapa ta`at kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar” (QS An-Nisaa’ 13).
 BAHAYA BAGI ORANG YANG TIDAK TAAT
1. Rapuhnya barisan dan timbulnya perselisihan.
Artinya: ”Dan ta`atlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar” (Al-Anfaal 46).
2. Kehinaan dari Allah SWT.
Firman Allah SWT, yang Artinya: ”Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan” (QS An-Nisaa’ 14).   
Artinya:”Sesungguhnya binatang (makhluk) yang paling buruk di sisi Allah ialah orang-orang yang kafir, karena mereka itu tidak beriman” (QS Al-Anfaal 55).
3. Bedosa dan bermaksiat kepada Allah.
Firman Allah SWT: Artinya:”Dan hendaklah kamu  memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik” (QS Al-Maa-idah 49).   
4. Mati dalam kondisi sesat dan jahiliyah.
Firman Allah SWT: Artinya: ”Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu'min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu'min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata” (QS: Al-Ahzaab 36).  
Rasulullah saw. bersabda: Artinya:Dari Ibnu Abbas ra dari Nabi SAW bersabda:” Barangsiapa melihat sesuatu yang ia tidak sukai pada pemimpinnya, maka bersabarlah karena barangsiapa yang meninggalkan jamaah sejengkal kemudian mati, kecuali mati dalam keadaan jahiliyah” (Muttafaqun ‘alaihi)
*Penulis adalah aktivis Hidayatullah yang tinggal di “www. penggawa-hikmah.com

MENGAPA KITA HARUS TAAT PADA PEMIMPIN? (kajian :Hikmah di balik taat kepada pemimpin)


MENGAPA KITA HARUS TAAT PADA PEMIMPIN?
Oleh : Sofyan Ats-Tsauri Amarta. S.Sos.I

Bila kita mengamati sejarah kehidupan manusia, dari zaman purbakala, zaman sebelum masehi, sesudah mesehi bahkan di era millennium sekarang ini pemimpin merupakan hal yang sangat penting keberadaannya.
Bangsa ini sejak pasca reformasi telah menghabiskan puluhan triliun hanya sekedar untuk memilih seorang pemimpin. Pada Pemilu 2004 tatal uang yang dihabiskan  untuk pemilu sekitar Rp 3,5 triliun untuk Pemilu DPR, DPRD I, DPRD II dan DPD serta Pemilihan Presiden (Pipres), dan pada Pemilu 2009 mengalami lonjakan yang sangat tajam. Menurut  catatan KPU menyebutkan total anggaran KPU dan Pemilu 2009 sekitar Rp 47,9 triliun. Anggaran tersebut dialokasikan untuk kebutuhan KPU dan Pemilu masing-masing sebesar Rp 18,6 triliun untuk tahun 2008, dan Rp. 29,3 triliun untuk proses Pemilu 2009.
Angka tersebut masih belum termasuk penyelenggaraan pemilukada di daerah-daerah baik di tingkat propinsi maupun di kabupaten/ kota. Andai uang tersebut dikumpulkan dalam sebuah rumah / ruko seperti di BMH Pusat, mungkin tinga lantai tidak cukup untuk menampungnya, asalkan uang tersebut adalah uang receh 100-an rupiah. Sungguh sangat banyak bukan?
Lalu yang menjadi pertanyaan sekarang adalah? Mengapa uang yang sebegitu besarnya dihabiskan iyu hanya untuk urusan yang demikian? Andai uang tersebut diberikan pada satu keluarga besar, mungkin 7 kali turunan tidak usah kerja, hidupnya tidur aja, dan semua serba dilayani, mungkin uang tersebut tidak akan habis bila untuk sekedar makan.
Akan tetapi bila kita melihat dengan kecamata lebih dalam, tentu esensi terbut bukan hanya untuk pesta-pesta rakyat belaka. Akan tetapi dari hasil tersebut diharapkan akan lahir seorang pemimpin yang mampu mengatur/ memberikan kebijakan/ mengarahkan rakyatnya menuju kehidupan yang damai, sejahtera dan berwibawa. Begitu pula Dalam kehidupan berkelompok, keberadaan pemimpin adalah hal yang sangat penting keberadaanya. Komunitas masyarakat terkecil yang disebut keluarga, keberadaan pemimpin menjadi sesuatu yang sangat utama, apalagi dalam sebuah komunitas/ organisasi seperti perusahaan atau yayasan, tentu pemimpin adalah hal mutlak yang harus ada. Fungsi pemimpin tersebut tiada lain adalah membuat sistem/ aturan yang dapat dijalankan secara bersama-sama sesuai dengan porsinya masing-masing. Berikut ini penulis akan jelaskan poin-poin penting tentang taat kepada pemimpin.
KEWAJIBAN TAAT ATASAN / PEMIMPIN
 Rosulullah SAW pernah bersabda: Artinya: Dari Ibnu Umar, dari Nabi SAW bersabda:” Atas setiap muslim harus mendengar dan taat terhadap sesuatu yang ia cintai atau benci, kecuali jika diperintah berbuat maksiat. Jikadiperintah bermaksiat maka tidak ada mendengar dan taat”(Muttafaqun alaihi)
Artinya: Dari Anas bin Malik dari Nabi SAW bersabda:” Dengar dan taatlah kalian walaupun dipimpin oleh seorang budak Habsyi dan kepalanya seperti buah anggur kering” (HR Bukhari)
Dari Abu Hurairah ra berkata:Rasulullah saw bersabda:” Hendaknya kamu mendengar dan taat pada saat engkau susah dan mudah, ketika engkau semangat atau tidak suka atau dalam keadaan punya kepentingan sendiri” (HR Muslim). Hadits-hadits yang membahas tentang taat itu banyak sekali dan begitu juga yang disebutkan dalam Al-Qur’an juga banyak diantaranya;
 Allah Swt berfirman:
$pkšr'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#þqãYtB#uä (#qãèÏÛr& ©!$# (#qãèÏÛr&ur tAqß§9$# Í<'ré&ur ͐öDF{$# óOä3ZÏB ( bÎ*sù ÷Läêôãt»uZs? Îû &äóÓx« çnrŠãsù n<Î) «!$# ÉAqß§9$#ur bÎ) ÷LäêYä. tbqãZÏB÷sè? «!$$Î/ ÏQöquø9$#ur ̍ÅzFy$# 4 y7Ï9ºsŒ ׎öyz ß`|¡ômr&ur ¸xƒÍrù's? ÇÎÒÈ  
“Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, makakembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benarberiman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya (QS. Annisa’:59)
 DEFINISI TAAT
Secara bahasa artinya mengerjakan sesuatu yang diperintahkan. Sedangkan secara syari’ah ialah beramal melaksanakan perintah disertai niat dan keyakinan. Berkata Al-Qurtubi:”Hakekat taat adalah melaksanakan sesuatu yang diperintahkan. Dan lawannya ma’shiyah artinya menyimpang dari perintah. Sedangkan Hasan Al-Banna berkata:” Yang saya kehendaki dari ketaatan ialah melaksanakan perintah dan merealisasikannya secara sepontan baik dalam kondisi susah atau mudah, dalam kondisi bergairah atau tidak”.
URGENSI / PENTINGNYA TAAT
Ketaatan merupakan pondasi hukum Islam dan kaidah sistem politik. Seseorang tidak mungkin dapat membayangkan adanya sistem yang benar dan negara yang kuat tanpa adanya keadilan dari penguasa dan ketaatan dari rakyatnya. Oleh karena itu sngat tepat apa yang dikatakan khalifah kedua umat Islam Umar bin Khattab:” Tidak ada Islam tanpa jamaah, tidak ada jamaah tanpa pemimpin dan tidak ada pemimpin tanpa ketaatan. Islam bukanlah agama individu, tetapi agama masyarakat yang tidak mungkin terealisasi kecuali melalaui jamaah. Dan jamaah tidak akan berarti sama sekali jika anggotanya tidak diikat oleh suatu sistem dan dihimpun oleh pemimpin yang mengatur urusan mereka. 
Sesungguhnya sikap mendengar dan taat merupakan dua pilar dari sistem hidup bermasyarakat. Dan keduanya merupakan tulang punggung dari manusia yang hidup dalam suatu bangsa dimana tidak mungkin bangsa tersebut menolak dan mengusir musuh, tentaranya akan menang jika tidak memiliki sikap mendengar dan taat yang merupakan satu kesatuan yang tidak dapat berpisah dari bangunan umat ini. Sehingga sikap mendengar dan taat adalah suatu yang mutlak harus dilakukan bagi bangsa yang ingin besar.
LANDASAN HUKUM TAAT KEPADA PEMIMPIN
Sesuai dengan nash yang telah dikemukakan diatas baik dari Al-Qur’an maupun sunnah, menyimpulkan bahwa Islam mewajibkan taat umat Islam untuk taat kepada pemimpin dan haram bagi umat Islam menyimpang dari ketaatan kepada pemimpin Islam. Nash lain yang mendukung perintah taat dan larangan menyimpang adalah:
Rasulullah saw bersabda: Dari Abu Hunaidah Wa’il bin Hajar ra berkata: Salamah bin Yazid Aj-Ja’fi bertanya pada Rasulullah saw dan berkata:” Wahai nabi Allah bagaimana pendapatmu jika pemimpin kami meminta kepada kami hak mereka dan tidak melaksanakan haknya (kewajibannya)?”. Rasulullah saw berpaling darinya, tetapi ia bertanya lagi, maka Rasulullah saw menjawab:” dengar dan taatilah (pemimpin tersebut) karena sesungguhnya mereka akan menanggung beban tanggung-jawab yang harus dilaksanakannya dan kamu juga akan bertanggung-jawab terhadap yang kamu perbuat“ (HR Muslim)   
BATASAN KETAATAN
Ketika Islam mewajibkan umat Islam untuk mentaati para pemimpin, Islam juga member batasan tentang ketaatan tersebut dan tidak membiarkanya berlaku mutlak tanpa ada batasan. Karena ketaatan mutlak akan melahirkan tirani dan kediktatoran sehingga akan menghapus nilai-nilai Islan dalam hidup bermasyarakat. Oleh karenanya ketaatan terhadap pemimpin dibatasai oleh ruang lingkup tertentu dan syarat-syarat tertentu yang harus ditunaikan. Dan diantaran batasan dan syurut tersebut adalah:
1. Pemimpin tersebut harus merealisasikan Syariat Islam, jika tidak melaksanakan Syariat Islam maka tidak ada kewajiban taat kepada pemimpin tersebut sesuai yang disebutkan Al-Qur’an dalam surat An-Nisaa’ ayat 59
2. Pemimpin tersebut tidak menyuruh manusia berbuat maksiat. Maka jika pemimpin menyuruh rakyatnya berbuat maksiat seperti minur khomr, riba, buka aurat dll, maka tidak ada kewajiban taat. Rasulullah saw bersabda: Tidak ada ketaatan dalam bermaksiat kepada Khalik (Allah)”(HR Ahmad dan Al-Hakim) 
3. Menegakkan hukum dengan adil, jika pemimpin melaksanakan keadilan maka wajib taat kepada mereka tetapi jika tidak adil maka tidak ada hak untuk ditaati, sebagaimana disebutkan  3 / 9Hadits Kewajiban Taat dalam surat An-Nisaa’ 59.  
4. Sesuatu yang diperintahkan mampu dilaksanakan oleh yang akan menanggung perintah tersebut.
Dari Abdullah bin Umar ra berkata: ”kami jika membai’ah Rasulullah saw untuk mendengar dan taat. Beliau berkata pada kami:”pada yang kamu mampu” (Muttafaqun ‘alaihi) 
KEUTAMAAN TAAT
1. Mendapatkan puncak kenikmatan bersama para nabi. Firman Allah: Artinya:” Dan barangsiapa yang menta`ati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni`mat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya” (QS An-Nisaa’ 69) 
2. Tidak terbuangnya kekayaan dunia dan mendapat keberkahan hidup. Firman Allah: Artinya: ”Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”(QS Al-A’raaf 96).
3. Mendapat tambahan hidayah. Firman Allah SWT: Artinya: ”Dan orang-orang yang berupaya mendapat petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan kepada mereka (balasan) ketakwaannya” (QS Muhammad 17). 
4. Mendapat keteguhan dalam taat. Firman Allah SWT. Artinya: ”Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu” (QS Muhammad 7).  
5. Mendapat pahala yang besar berupa keridhan Allah dan surga-Nya.  Firman Allah SWT. Artiny a: (Hukum-hukum tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barangsiapa ta`at kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar” (QS An-Nisaa’ 13).
 BAHAYA BAGI ORANG YANG TIDAK TAAT
1. Rapuhnya barisan dan timbulnya perselisihan.
Artinya: ”Dan ta`atlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar” (Al-Anfaal 46).
2. Kehinaan dari Allah SWT.
Firman Allah SWT, yang Artinya: ”Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan” (QS An-Nisaa’ 14).   
Artinya:”Sesungguhnya binatang (makhluk) yang paling buruk di sisi Allah ialah orang-orang yang kafir, karena mereka itu tidak beriman” (QS Al-Anfaal 55).
3. Bedosa dan bermaksiat kepada Allah.
Firman Allah SWT: Artinya:”Dan hendaklah kamu  memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik” (QS Al-Maa-idah 49).   
4. Mati dalam kondisi sesat dan jahiliyah.
Firman Allah SWT: Artinya: ”Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu'min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu'min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata” (QS: Al-Ahzaab 36).  
Rasulullah saw. bersabda: Artinya:Dari Ibnu Abbas ra dari Nabi SAW bersabda:” Barangsiapa melihat sesuatu yang ia tidak sukai pada pemimpinnya, maka bersabarlah karena barangsiapa yang meninggalkan jamaah sejengkal kemudian mati, kecuali mati dalam keadaan jahiliyah” (Muttafaqun ‘alaihi)
*Penulis adalah aktivis Hidayatullah yang tinggal di “www. penggawa-hikmah.com


Tanda-tanda dan fitnah akhir zaman
Top of Form
DARI Said bin Zubair, dari Ibnu Abbas; ia berkata, bersabdalah Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم), "Tiada suatu kaum itu mengurangi takaran, mengelabuhi timbangan kecuali Allah akan mencegah hujan kepada mereka. Dan tiada nampak perzinaan pada suatu bangsa kecuali akan timbul maut atas mereka. Tidak lahir pada suatu kaum perbuatan riba kecuali Allah akan mengangkat penguasa yang gila. Tiada muncul pembunuhan pada suatu bangsa kecuali Allah akan memberi kekuasaan kepada musuh-musuh mereka. Dan tiada timbul suatu perbuatan homoseksual kecuali akan timbul pada mereka kehinaan (kemusnahan). Dan tiada suatu bangsa meninggalkan amar ma'ruf nahi mungkar, kecuali amal-amal mereka tidak akan terangkat dan doa-doa mereka tidak didengarkan." (HR.Tabrani).
Prediksi Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) ini sudah disampaikan 14 abad lamanya dan rupanya telah menjadi kenyataan hari ini. Kasus-kasus sosial dan moral;  mengurangi takaran/ timbangan, legalnya perzinahan, riba, pembunuhan, homoseksual, dan meninggalkan amar ma'ruf nahi mungkar bisa kita rasakan hari ini. Bahkan akhir-akhir ini kasus-kasus tersebut banyak sekali dilansir oleh media massa.
Fenomena ini disadari atau tidak, namun kenyataan membuktikan semakin hari problematika masyarakat makin tambah pelik akibat fitnah-fitnah tersebut.
Diceritakan oleh Urwah dari Aisyah ra dalam Musnad-nya, "Telah datang ke tempatku, Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم), beliau tampak sedih. Saya mengetahui dari wajahnya, bahwa beliau sedang dirisaukan oleh sesuatu. Beliau tidak berbicara hingga berwudhu, lalu keluar. Saya tetap tinggal di kamar. Kemudian beliau naik ke mimbar, lalu membaca tahmid dan berkhutbah: "Wahai saudara-saudara, sesungguhnya Allah Subhanahu wa-ta'ala (سبحانه و تعالى‎) berfirman kepada kalian: "Serukanlah kebaikan dan cegahlah kemungkaran sebelum kalian berdoa kepada-Ku. Kalau tidak, Aku tidak akan menjawab kalian (tidak mengabulkan) ketika kalian memohon pertolongan kepada-Ku, Aku tidak akan menolongmu, kalau kalian minta, Aku tidak akan memberimu'."

Hadits di atas menginformasikan kepada kita betapa dahsyat akibatnya, jika seorang mukmin 'meninggalkan kewajiban beramar ma'ruf nahi mungkar di tengah kehidupan masyarakatnya. Di mana Allah tidak akan mengabulkan doa-doanya. Disamping Allah juga tidak akan memberikan pertolongan-Nya di saat-saat dibutuhkan-Nya. Tentunya, untuk menyikapi kondisi sosial semacam ini kita harus melakukan muhasabah(instropeksi diri). Tidak perlu menuding sana menuding sini, dan siapa yang harus disalahkan. Akan tetapi secara jantan, kita harus berani mengakui kealfaan kita dan perbuatan dosa kita. Sikap ini harus dilakukan sebelum Allah benar-benar menghisab kita kelak di hari pembalasan yang amat berat itu.
Sudahkah kita melakukan amar ma'ruf nahi munkar? Sudahkah para pemimpin kita melakukan amar ma'ruf nahi mungkar? Sikap ini harus dimiliki semua orang. Dari tingkat presiden, menteri, pejabat eselon, anggota dewan, manager, pengelola TV/Koran, rektor, kepala sekolah, bupati, camat, lurah, ketua RT hinggap kepala rumah tangga.
Tidak pantas rasanya kita mencari kambing hitam untuk menyelesaikan persoalan ini. Marilah secara arif kita tumbuhkan rasa kasih sayang dan sampaikan amar ma’ruf di tempat kita dan di tempat kekuasaan kita,secepatnya melakukan taubatan nasuha, sebelum maut menjemput kita atau malapetaka lebih besar ditimpahkan kepada kita.
Imam Ahmad menyebutkan dari Umar bin Khaththab ra mengatakan, "Hampir negeri itu dihancurkan padahal ia makmur."
Ditanya, "Mengapa akan dihancurkan sedangkan ia subur?"
Ia menjawab, "Karena orang-orang yang jahat di situ mengungguli orang-orang yang baik, dan orang-orang munafik telah memimpin suku bangsa di sana."
Apa yang dikatakan Umar itu bukan telah menjadi kenyataan. Fenomena sekarang bisa dilihat. Suami istri berselinkuh, ayah menghamili anak, anak memperkosa ibunya, homoseksual dan lesbian merajalela. Bahkan diseminarkan, dikampanyekan terang-terangan dan film-nya dipamerkan dengan difasilitasi media massa.
Seks remaja bebas di jalanan tanpa rasa malu dan sedikit orang mengingatkan maksiat terang-terangan seperti ini. Masyarakat menerima tanpa ketika waria, kaum homo/lesbi mendaftar menjadi wakil rakyat. Seolah menandakan perilaku mereka sudah benar menurut agama. Sementara di sisi lain, lembaga-lembaga amar ma’ruf nahi munkar dimusuhi (juga difasilitasi media massa). Jika mereka berani melakukan aksinya, pers, polisi, pemerintah dan LSM menyebutkan organisasi pelaku kekerasan.
Nabi sendiri jauh-jauh sudah memperingatkan, "Akan datang suatu masa, saat hati seorang mukmin bagaikan meleleh sebagaimana garam mencair dalam air."
Melelehnya orang mukmin, dikarenakan ia melihat kemungkaran dan kedhaliman, tetapi ia membiarkannya begitu saja. Tanpa ada kemauan untuk merubahnya. Seolah sekarang ini 'mafia' kamaksiatan telah terorganisir dengan apik dan teratur secara sistemik. Sampai orang-orang mukmin, seolah 'tak berdaya' untuk melakukan tindakan pengembalian manusia tersesat dari jalan Allah (inabah).
Puncak kondisi sosial semacam ini, maksudnya bila kaum mukmin sudah tidak lagi mampu melakukan amar makruf nahi mungkar, tunggu saatnya Allah akan menghacur-leburkan dan meluluh-lantakkan ummat manusia tersebut dengan meratanya siksaan (musibah). Sebagaimana dikatakan Nabi, "Tiada suatu kaum berbuat maksiat di tengah-tengah mereka (orang-orang mukmin), sedangkan mereka lebih kuat dan lebih banyak daripada yang berbuat itu, kecuali Allah akan meratakan pada mereka siksanya."
Wanita dan seks
Dalam banyak riwayat, Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) mengingatkan masalah wanita dan aurat. Dalam sebuah riwayat,  Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) mengatakan, "Demi Allah yang diriku di tangan-Nya, tidaklah akan binasa ummat ini sehingga orang-orang lelaki menerkam wanita di tengah jalan (dan menyetubuhinya); dan di antara mereka yang terbaik pada waktu itu berkata, "Alangkah baiknya kalau saya sembunyikan wanita ini di balik dinding ini."

Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Ya'la tersebut di atas akan menjadi kenyataan, manakala ummat manusia telah melegalkan dan menghalalkan perzinahan dan pakaian mewah. (Shahih Bukhari). Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) juga pernah mengatakan, tidak hanya perzinahan, akan tetapi ummat manusia telah melegalkan juga akan minuman yang memabukkan dengan segala rekayasanya. (Musnad Ahmad dan Sunan Abu Dawud, dishahihkan oleh al-Albani).
Pada zaman ini ummat manusia banyak yang mengindap penyakit bakhil. Mereka mau berkorban, bila ada maunya saja. Niat ikhlas karena Allah, mereka gantikan dengan kepentingan-kepentingan pribadinya. Ummat Islam lebih suka memperindah masjid-masjidnya. Bahkan karena masalah sepele, mereka dengan teganya memutuskan tali persaudaraan sesama muslim.
Selain itu adalah semakin banyaknya penyanyi-penyanyi wanita, yang semakin berani membuka auratnya (HR.Thabrani, dishahihkan oleh al-Albani).
Sekarang, semua sudah dinampakkan di depan mata kita. Ketika para artis melawan –bahkan melecehkan fatwa ulama-- ketika mereka diingatkan apa yang dilakukannya itu keliru. Dan lagi-lagi, fitnah zaman seperti ini justru difasilitasi media massa.
Telah banyak tanda-tanda yang dikabarkan dalam hadits Nabi. Dan telah banyak pula di antara tanda-tanda itu diperlihatkan di sekitar kita. Sementara belum banyak yang kita lakukan untuk perbaikan zaman. Lantas, apa modal kita menghadap Allahu Ta’ala  bila sewaktu-waktu Allah Subhanahu Wa ta'ala memanggil kita...?.*/


Tanda-tanda dan fitnah akhir zaman
Top of Form
DARI Said bin Zubair, dari Ibnu Abbas; ia berkata, bersabdalah Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم), "Tiada suatu kaum itu mengurangi takaran, mengelabuhi timbangan kecuali Allah akan mencegah hujan kepada mereka. Dan tiada nampak perzinaan pada suatu bangsa kecuali akan timbul maut atas mereka. Tidak lahir pada suatu kaum perbuatan riba kecuali Allah akan mengangkat penguasa yang gila. Tiada muncul pembunuhan pada suatu bangsa kecuali Allah akan memberi kekuasaan kepada musuh-musuh mereka. Dan tiada timbul suatu perbuatan homoseksual kecuali akan timbul pada mereka kehinaan (kemusnahan). Dan tiada suatu bangsa meninggalkan amar ma'ruf nahi mungkar, kecuali amal-amal mereka tidak akan terangkat dan doa-doa mereka tidak didengarkan." (HR.Tabrani).
Prediksi Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) ini sudah disampaikan 14 abad lamanya dan rupanya telah menjadi kenyataan hari ini. Kasus-kasus sosial dan moral;  mengurangi takaran/ timbangan, legalnya perzinahan, riba, pembunuhan, homoseksual, dan meninggalkan amar ma'ruf nahi mungkar bisa kita rasakan hari ini. Bahkan akhir-akhir ini kasus-kasus tersebut banyak sekali dilansir oleh media massa.
Fenomena ini disadari atau tidak, namun kenyataan membuktikan semakin hari problematika masyarakat makin tambah pelik akibat fitnah-fitnah tersebut.
Diceritakan oleh Urwah dari Aisyah ra dalam Musnad-nya, "Telah datang ke tempatku, Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم), beliau tampak sedih. Saya mengetahui dari wajahnya, bahwa beliau sedang dirisaukan oleh sesuatu. Beliau tidak berbicara hingga berwudhu, lalu keluar. Saya tetap tinggal di kamar. Kemudian beliau naik ke mimbar, lalu membaca tahmid dan berkhutbah: "Wahai saudara-saudara, sesungguhnya Allah Subhanahu wa-ta'ala (سبحانه و تعالى‎) berfirman kepada kalian: "Serukanlah kebaikan dan cegahlah kemungkaran sebelum kalian berdoa kepada-Ku. Kalau tidak, Aku tidak akan menjawab kalian (tidak mengabulkan) ketika kalian memohon pertolongan kepada-Ku, Aku tidak akan menolongmu, kalau kalian minta, Aku tidak akan memberimu'."

Hadits di atas menginformasikan kepada kita betapa dahsyat akibatnya, jika seorang mukmin 'meninggalkan kewajiban beramar ma'ruf nahi mungkar di tengah kehidupan masyarakatnya. Di mana Allah tidak akan mengabulkan doa-doanya. Disamping Allah juga tidak akan memberikan pertolongan-Nya di saat-saat dibutuhkan-Nya. Tentunya, untuk menyikapi kondisi sosial semacam ini kita harus melakukan muhasabah(instropeksi diri). Tidak perlu menuding sana menuding sini, dan siapa yang harus disalahkan. Akan tetapi secara jantan, kita harus berani mengakui kealfaan kita dan perbuatan dosa kita. Sikap ini harus dilakukan sebelum Allah benar-benar menghisab kita kelak di hari pembalasan yang amat berat itu.
Sudahkah kita melakukan amar ma'ruf nahi munkar? Sudahkah para pemimpin kita melakukan amar ma'ruf nahi mungkar? Sikap ini harus dimiliki semua orang. Dari tingkat presiden, menteri, pejabat eselon, anggota dewan, manager, pengelola TV/Koran, rektor, kepala sekolah, bupati, camat, lurah, ketua RT hinggap kepala rumah tangga.
Tidak pantas rasanya kita mencari kambing hitam untuk menyelesaikan persoalan ini. Marilah secara arif kita tumbuhkan rasa kasih sayang dan sampaikan amar ma’ruf di tempat kita dan di tempat kekuasaan kita,secepatnya melakukan taubatan nasuha, sebelum maut menjemput kita atau malapetaka lebih besar ditimpahkan kepada kita.
Imam Ahmad menyebutkan dari Umar bin Khaththab ra mengatakan, "Hampir negeri itu dihancurkan padahal ia makmur."
Ditanya, "Mengapa akan dihancurkan sedangkan ia subur?"
Ia menjawab, "Karena orang-orang yang jahat di situ mengungguli orang-orang yang baik, dan orang-orang munafik telah memimpin suku bangsa di sana."
Apa yang dikatakan Umar itu bukan telah menjadi kenyataan. Fenomena sekarang bisa dilihat. Suami istri berselinkuh, ayah menghamili anak, anak memperkosa ibunya, homoseksual dan lesbian merajalela. Bahkan diseminarkan, dikampanyekan terang-terangan dan film-nya dipamerkan dengan difasilitasi media massa.
Seks remaja bebas di jalanan tanpa rasa malu dan sedikit orang mengingatkan maksiat terang-terangan seperti ini. Masyarakat menerima tanpa ketika waria, kaum homo/lesbi mendaftar menjadi wakil rakyat. Seolah menandakan perilaku mereka sudah benar menurut agama. Sementara di sisi lain, lembaga-lembaga amar ma’ruf nahi munkar dimusuhi (juga difasilitasi media massa). Jika mereka berani melakukan aksinya, pers, polisi, pemerintah dan LSM menyebutkan organisasi pelaku kekerasan.
Nabi sendiri jauh-jauh sudah memperingatkan, "Akan datang suatu masa, saat hati seorang mukmin bagaikan meleleh sebagaimana garam mencair dalam air."
Melelehnya orang mukmin, dikarenakan ia melihat kemungkaran dan kedhaliman, tetapi ia membiarkannya begitu saja. Tanpa ada kemauan untuk merubahnya. Seolah sekarang ini 'mafia' kamaksiatan telah terorganisir dengan apik dan teratur secara sistemik. Sampai orang-orang mukmin, seolah 'tak berdaya' untuk melakukan tindakan pengembalian manusia tersesat dari jalan Allah (inabah).
Puncak kondisi sosial semacam ini, maksudnya bila kaum mukmin sudah tidak lagi mampu melakukan amar makruf nahi mungkar, tunggu saatnya Allah akan menghacur-leburkan dan meluluh-lantakkan ummat manusia tersebut dengan meratanya siksaan (musibah). Sebagaimana dikatakan Nabi, "Tiada suatu kaum berbuat maksiat di tengah-tengah mereka (orang-orang mukmin), sedangkan mereka lebih kuat dan lebih banyak daripada yang berbuat itu, kecuali Allah akan meratakan pada mereka siksanya."
Wanita dan seks
Dalam banyak riwayat, Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) mengingatkan masalah wanita dan aurat. Dalam sebuah riwayat,  Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) mengatakan, "Demi Allah yang diriku di tangan-Nya, tidaklah akan binasa ummat ini sehingga orang-orang lelaki menerkam wanita di tengah jalan (dan menyetubuhinya); dan di antara mereka yang terbaik pada waktu itu berkata, "Alangkah baiknya kalau saya sembunyikan wanita ini di balik dinding ini."

Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Ya'la tersebut di atas akan menjadi kenyataan, manakala ummat manusia telah melegalkan dan menghalalkan perzinahan dan pakaian mewah. (Shahih Bukhari). Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) juga pernah mengatakan, tidak hanya perzinahan, akan tetapi ummat manusia telah melegalkan juga akan minuman yang memabukkan dengan segala rekayasanya. (Musnad Ahmad dan Sunan Abu Dawud, dishahihkan oleh al-Albani).
Pada zaman ini ummat manusia banyak yang mengindap penyakit bakhil. Mereka mau berkorban, bila ada maunya saja. Niat ikhlas karena Allah, mereka gantikan dengan kepentingan-kepentingan pribadinya. Ummat Islam lebih suka memperindah masjid-masjidnya. Bahkan karena masalah sepele, mereka dengan teganya memutuskan tali persaudaraan sesama muslim.
Selain itu adalah semakin banyaknya penyanyi-penyanyi wanita, yang semakin berani membuka auratnya (HR.Thabrani, dishahihkan oleh al-Albani).
Sekarang, semua sudah dinampakkan di depan mata kita. Ketika para artis melawan –bahkan melecehkan fatwa ulama-- ketika mereka diingatkan apa yang dilakukannya itu keliru. Dan lagi-lagi, fitnah zaman seperti ini justru difasilitasi media massa.
Telah banyak tanda-tanda yang dikabarkan dalam hadits Nabi. Dan telah banyak pula di antara tanda-tanda itu diperlihatkan di sekitar kita. Sementara belum banyak yang kita lakukan untuk perbaikan zaman. Lantas, apa modal kita menghadap Allahu Ta’ala  bila sewaktu-waktu Allah Subhanahu Wa ta'ala memanggil kita...?.*/

back to top