BUDAYA PERUSAHAAN DALAM PERSEPEKTIF KOMUNIKASI ISLAM

Posted by Amar  |  at  22.26


Makalah
Budaya Perusahaan Dalam Persepektif Komunikasi Marketing Islam
Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Regestrasi Pasca Sarjana
Jurusan Ilmu Komunikasi Program Komunikasi Marketing
 Oleh : Sofyan Ats-Tsauri S.Sos.I
 Universitas Muhammadiyah Jakarta
Februari 2012

Pendahuluan
Dalam sejarah kehidupan manusia, tidak akan pernah lepas dari budaya. Budaya dilahirkan oleh adanya komunikasi antar manusia yang satu dengan yang lainnya. Pada awal terciptanya suatu budaya di permukaan bumi, sesungguhnya telah terjadi interakasi antar manusia yang satu dengan yang lainnya. Sehingga terjadilah proses budaya pada kehidupan sosial manusia. Tidak cukup dengan hal itu, maka di lakukanlah proses akulturasi  budaya kelompok manusia yang ada. Sehingga bercampurlah dua atau lebih  kebudayaan yang  berbeda  yang menyatu  dalam kelompok masyarakat yang ada.
  Terjadinya proses tersebut, tidak dapat dipungkuri adanya sistem komunikasi yang telah berjalan dengan efektif pada kelompok masyarakt tersebut. Sistem komunikasi yang di temukan pada suatu bangsa biasanya seirama dengan kebudayaan bangsa yang bersangkutan; cara sesuatu bagsa berkomunikasi mencerminkan sistem budaya bangsa itu sendiri. Norma-norma budaya itu biasanya mempengaruhi prilaku komunikasi warganya.
Di kalangan bangsa-bangsa,  memiliki sistem budaya yang bersifat majemuk, biasanya perilaku komunikasi masyarakatnya yang tidak seragam. Bahkan heterogen. Itulah sebabnya, pemakaian lambang-lambang (bahasa) baik yang bersifat verbal maupun non verbal antara kelompok etnis sering menimbulkan salah pengertian, atau perbedaan presepsepsi karena sistem lambang mereka tidak sama (miscommunication).[1]
Dalam rangka untuk memahami judul diatas, penulis akan membahas poin–poin tersebut dalam tiga sub pokok bahasan, diantaranya, (1) Memahami Komunikasi Umum dan Komunikasi Islam, (2) Memahami Komunikasi Umum dan Komunikasi Islam (3) Etika Komunikasi Islam Sebagai Dasar Perilaku Komunikasi Marketing, (4) Komunikasi Marketing Islam Dalam Budaya Perusahaan.
1.      Memahami Komunikasi Umum dan Komunikasi Islam
Sebelum memahami lebih jauh, perlu dijelaskan terlebih dahulu arti  dari komunikasi dalam pandangan umum dan komunikasi dalam pandangan Islam (komunikasi Islam). Secara mendasar harus dipahami dahulu terkait dengan arti dari komunikasi. Istilah komunikasi berasal dari kata communicare yang di dalam bahasa latin mempunyai arti berpartisipasi, atau berasal dari kata commonness yang berarti sama=common.
Dengan demikian, dengan sederhana sekali, dapat kita artikan bahwa seseorang yang berkomunikasi berarti mengharapkan agar orang lain ikut serta berpartisipasi atau bertindak sama sesuai denga tujuan, harapan atau isi dari pesan yang disampaikan. Pernyataan ini selaras dengan pernyataan  pakar komunikasi prof. Wilbur Schramm, yang memberikan pernyataannya sebagi berikut. ‘when we communication, we are traying to estabilish a communes with someone. That is we are traying to share information, an idea or an attitude,……………..communication always requires at least tree element – the soruch, the messege, and des tination.
 Dari pernyataan Wilbur Schramm diatas, Schramm ingin menekankan bahwa dengan berkomunikasi berarti berusaha untuk mengadakan persamaan atau commonness dengan orang lain, dengan cara menyampaikan keterangan, berupa sebuah gagasan (idea) maupun sebuah sikap tertentu. Juga dijelaskan bahwa sebuah komunikasi harus memenuhi syarat-syarat tertentu sekurang-kurangnya terdiri dari tiga unsur yaitu sumber, isi pesan, dan tujuan.[2] Sehingga jika tiga syarat ini sudah terpenuhi maka dapat dipastikan akan terjadi feedback pada seorang komukator dari seorang komunikan.
Sedangkan menurut laswell komunikasi merupakan proses yang menggambarkan siapa mengatakan apa dengan cara apa, kepada siapa dengan efek apa. Hal ini senada pula dengan pendapat Carl I.Hovland yang mengatakan bahwa komunikasi adalah proses dimana seseorang individu mengoperkan stimulant biasanya dengan lambang-lambang bahasa (verbal maupun non verbal) untuk mengubah tingkah laku orang lain.
 Tidak jauh berbeda dengan pendapat William albig yang mengatakan komunikasi itu adalah, siapa mengatakan apa dengan cara apa, kepada siapa dengan efek apa. Pendapat ini diperkuat  pula dengan pendapat Carl I.Hovland yang mengatakan bahwa komunikasi merupakan proses dimana seseorang individu mengoperkan stimulant biasanya dengan lambang-lambang bahasa (verbal maupun non verbal) untuk mengubah tingkah laku orang lain. William albig menambahkan  bahwa komunikasi dapat diartikan sebagai proses sosial, dalam arti pelemparan pesan/lambang seseorang kepada orang lain, yang mana mau tidak mau akan menumbuhkan pengaruh pada semua proses interaksi yang mempunyai arti antara sesame manusia.[3]
Ketika melihat pengertian diatas, maka dapat kita pahami bahwa setiap komunikasi merupakan suatu proses penyampaian pesan dari seorang komunikator ke komunikan, sehingga komunikan dapat menangkap proses pesan yang disampaikan oleh seorang komunikator, sehingga akan terjadi feedback dalam proses komunikasi tersebut. Secara sederhana, lasswell menggambarkan proses tersebut dalam model dibawah ini.


Siapa

komunikator
Mengatakan Apa
Pesan
Dengan saluran mana
Mediun
Kepada Siapa

Komunikan
Dengan Efek Bagaimana
Efek
 


 Dalam gambaran komunikasi menurut lasswell diatas, dapat kita amati lebih dalam, bahwa setiap  komunikasi akan mengalami suatu proses, sehingga akan menimbulkan feedback (umpan balik)/ efek dari seorang komunikan kepada komunikator, baik yang bersifat komunikasi verbal maupun non verbal.
Hubungannya dengan komunikasi Islam adalah bahwa komunikasi Islam secara sederhana merupakan sistem komunikasi umat Islam. Pengertian sederhana itu menunjukkan, bahwa komunikasi Islam lebih fokus pada sistemnya dengan latar belakang filosofi (teori) yang berbeda dengan persepektif komunikasi non Islam. Dengan kata lain sistem komunikasi Islam didasarkan pada Al-Qur’an dan hadist Nabi Muhammad SAW. Oleh sebab itulah dapat kita artikan bahwa komunikasi Islam adalah proses penyampaian pesan antara manusia yang satu dengan yang lainnya berdasarkan pada ajaran Islam.
Pengertian ini menunjukkkan, bahwa komunikasi Islami adalah cara berkomunikasi yang bersifat Islami (tidak bertentangan dengan ajaran Islam). Maka dengan sebab inilah bahwa komunikasi Islami merupakan Implementasi dari komunikasi Islam.[4]
            Dalam Al-qur’an salah satu dasar  yang menjadi acuan dalam komunikasi Islam yaitu :  
äí÷Š$# 4n<Î) È@Î6y y7În/u ÏpyJõ3Ïtø:$$Î/ ÏpsàÏãöqyJø9$#ur ÏpuZ|¡ptø:$# ( Oßgø9Ï»y_ur ÓÉL©9$$Î/ }Ïd ß`|¡ômr& 4 ¨bÎ) y7­/u uqèd ÞOn=ôãr& `yJÎ/ ¨@|Ê `tã ¾Ï&Î#Î6y ( uqèdur ÞOn=ôãr& tûïÏtGôgßJø9$$Î/ ÇÊËÎÈ  
 Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah, dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (Qs. An-Nahl (16)
Bahkan dalam  surat An-Ashr ayat 1-3 yang memilki arti . “ Demi masa, Sesungguhnya manusia itu Benar-benar dalam kerugian, Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”. Bahkan dalam  salah satu hadist nabi pernah dikatakan “ katakanlah yang benar sekalipun pahit. [5]
Tidak hanya sebatas itulah Al-qur’an menjelaskan tentang komunikasi, bahkan banyak ayat-ayat lainnya yang menjelaskannya, baik komunikasi inter personal, komunikasi intra personal, komunikasi massa, komunikasi antar kelompok, dan lain sebagainya, dijelaskan baik secara tersurat maupun tersirat (tafsir).
Salah satu penelusuran, berdasar arti komunikasi secara etimologi, dapat kita identifikasikan istilah yang mengandung makna komunikasi verbal, baik secara denotatif maupun konotatif. Yang termasuk katagori denotatif adalah: 
a. Qaulan Baligha ( QS. an-Nisa’: 63)
b. Qaulan Layina ( QS. Thaha: 44)
c. Qaulan Ma’rufa ( QS. Al-Baqarah: 235; QS. An- Nisa’: 5& 8; QS. Al-Ahzab: 32)
d. Qaulan Maisura ( QS. Al-Isra’: 28 )
e. Qaulan Karima ( QS. Al-Isra’: 23)
Sedangkan yang termasuk kategori konotatif adalah:
a. Mau’idhah ( an-Nisa’: 66)
b. Da’wah: (an- Nahl :125; Yusuf:108)
c. Nashihah ( at-Taubah: 91; al-A’raf: 21, 62,68,79,93; Hud:34; Yusuf:11; Qashas:12)
d. Taushiyah ( al-Ashr: 3)[6]
2.      Etika Komunikasi Islam Sebagai Dasar Perilaku Komunikasi Marketing
Setelah kita pahami landasan dasar komunikasi Islam diatas, maka hal yang utama harus dipahami terlebih dahulu yaitu etika komunikasi. Mengapa kita harus memahami etika komunikasi? Dan apa hubungannya dengan komunikasi Islam? Sebagaimana penjelasan diatas bahwa deminsi dari komunikasi Islam yaitu pada landasan filosofinya sebagai langkah dasar dalam setiap implementasi aktivitas komunikasi. Oleh karena itulah etika komunikasi merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dari landasan filosofi komunikasi Islam, karena hal tersebut merupakan bentuk kongkrit implementasi dari komunikasi Islam.
Etika merupakan suatu tipe pembuatan keputusan yang bersifat moral, dan menentukan apa yang benar atau salah yang dipengaruhi oleh peraturan dan hukum yang ada dalam masyarakat. Etika harus menjadi : “batu penjuru” dari peradaban manapun, dimana nilai-nilai kebenaran, kejujuran dan integritas ingin dipertahankan. Dalam pengertian lain etika diartikan sebagai (1). Ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral,. (2), kumpulan asas/nilai yang berkenaan dengan akhlak, (3) nilai menganai benar dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat. Apabila diamapbil dari pengertian tersebut, maka etika komunikasi akan mengandung pengertian sebagai cara berkomunikasi yang sesuai dengan standar nilai-nilai akhlak yang baik. Pengertian diatas mempunyai nuansa yang Islami dalam penerapannya. [7]
Dalam rangka untuk memahami kerangka poin diatas, harus dipahami terlebih dahulu arti dari komunikasi marketing. Istilah komunikasi marketing terdiri dari dua unsur kata yaitu komunikasi dan marketing. Komunikasi sebagaimana penjelasan diatas, merupakan merupakan suatu proses penyampaian pesan dari seorang komunikator ke komunikan, sehingga komunikan dapat menangkap proses pesan yang disampaikan oleh seorang komunikator, sehingga akan terjadi feedback dalam proses komunikasi tersebut. Sedangkan marketing diartikan sebagai proses penyusunan komunikasi secara terpadu yang bertujuan untuk memberikan informasi mengenai barang dan jasa dalam kaitanya dengan memuaskan kebutuhan dan keinginan manusia (konsumen)
Menurut Djasmin Saladin (2001:123) bahwa marketing komunikasi adalah aktivitas yang berusaha menyebarkan informasi, mempengaruhi dan membujuk atau mengingatkan pesan sasaran atas perusahaan dan produknya agar bersedia menerima, membeli loyal pada produk yang ditawarkan perusahaan yang bersangkutan.
Sedangkan menurut menurut Sofyan Assauri, (1996:243) komunikasi marketing (pemasaran) adalah kombinasi strategi yang paling baik dari unsur-unsur promosi tersebut tersebut, maka untuk dapat efektifnya promosi dilakukan oleh suatu perusahaan, perlu ditentukan terlebih dahulu peralatan dan unsur promosi apa saja yang sebaiknya digunakan dan bagaimana pengkombinasian unsur-unsur tersebut agar hasilnya dapat optimal. [8]
Dari penjelasan diatas dapat kita simpulkan, bahwa komunikasi marketing adalah  proses cara untuk mengkomunikasikan kepada konsumen dengan menggunakan unsur-unsur promosi untuk mencapai tujuan perusahaan. Maka dengan demikian komunikasi marketing Islam dapat kita artikan sebagai aktifitas yang berusaha untuk menyebarkan informasi dengan benar berdasarkan asas Islam, oleh suatu perusahaan (produsen) kepada konsumen, baik berupa barang dan jasa,  agar terpengaruh terhadap produk yang ditawarkan, sehingga mampu untuk membeli dengan loyal produk yang ditawarkan tersebut, guna untuk memenuhi kebutuhan kedua belak pihak sehingga akan menimbulkan simbualis mutualisme (saling menguntungkan).

3.      Komunikasi Marketing Islam Dalam Budaya Perusahaan
Istilah Corporate Culture budaya perusahaan sebenarnya telah dikenal di amirika serikat dan eropa di era 1970-an. Salah satu tokoh yang memperkenalkannya adalah Deal and kennedy, dia juga pernah menulis dalam bukunya‘Corporate Culture” bahwa budaya perusahaan adalah nilai inti sebagai esensi falsafah perusahaan perusahaan untuk mencapai sukses yang didukung semua warga yang didukung semua warga organisasi dan memberikan pemahaman bersama tentang arah bersama dan menjadi pedoman perilaku mereka sehari-hari.
Menurut pendapat Robbins, dalam bukunya Organizational Behavior menyatakan bahwa budaya perusahaan adalah sekumpulan sistem nilai yang diakui dan dibuat oleh semua anggotanya yang membedakan perusahaan yang satu dengan yang lainnya.
J.Scherrition & J.L.Stren juga menjelaskan tentang Corporate Culture, Mereka mengatakan bahwa Corporate Culture is generally refers to environment or personality of organization, with all its multifaceted demensions. We devide corporate culture into four aspects. Those are ritualized patterns, management styles and philosophis, management system and patterns, and procedures, as well as written and unwritten norms and procedures. Budaya perusahaan umumnya terkait dengan lingkungan atau personalitas organisasi dengan segala dimensi masalah yang dihadapi. Kami membagi budaya perusahaan dalam 4 (empat) aspek, yaitu pola ritual, gaya manajemen dan filosofinya, sistem dan prosedur manajemen, serta norma-norma dan prosedur-prosedur tertulis dan tidak tertulis. [9]
Dari penjelasan diatas dapat kita pahami bahwa budaya perusahaan itu merupakan sistem kerja yang diciptakan oleh anggota perusahaan guna untuk menciptakan lingkungan usaha yang kondusif, sehingga akan tercipta lingkungan perusahaan yang memiliki nilai-nilai yang baik dalam setiap aktivitas kegiatan yang dilakukan.  
Setelah kita memahami arti dari budaya perusahaan, setidaknya kita dapat memahami fungsi dari budaya perusahaan tersebut. Diantara fungsi tersebut menurut Sterphen P.Robbins, dia membagi lima fungsi budaya perusahaan, diantaranya:
a.       Berperan menetapkan batasan
b.      Mengantarkan suatu perasaan identitas bagi anggota organisasi.
c.       Mempermudah timbulnya komitmen yang lebih luas daripada kepentingan individual seseorang.
d.      Meningkatkan stabilitas sistem sosial  karena merupakan perekat sosial yang membantu mempersatukan organisasi.
e.       Sebagai mekanisme kontrol dan menjadi rasional yang memandu dan membentuk sikap serta perilaku para karyawan.
Sedangkan Robert Kreitner dan Angelo Kinicki dalam bukunya Organizatioanal Behavior membagi empat fungsi budaya organisasi, yaitu:
a.       Memberikan identitas organisasi kepada karyawannya.
b.      Memudahkan komitmen kolektif
c.       Mempromosikan stabilitas sistem sosial
d.      Membentuk perilaku dengan membantu manajer merasakan keberadannya. [10]
Nelson dan Qiuck, (1997), juga mengungkapkan, bahwa budaya perusahaan mempunyai empat fungsi dasar, yaitu perasaan identitas dan menambah komitmen organisasi, alat pengorganisasian anggota, menguatkan nilai-nilai dalam organisasi, dan mekanisme kontrol atas perilaku.
Dengan demikian, fungsi budaya perusahaan (Corporate Culture)  adalah sebagai perekat sosial dalam mempersatukan anggota-anggota dalam mencapai tujuan perusahaan berupa ketentuan-ketentuan atau nilai-nilai yang harus dikatakan dan dilakukan oleh para karyawan. Hal tersebut dapat berfungsi pula sebagai control atas perilaku para karyawan.[11]
            Setelah kita pahami dari arti dan fungsi budaya perusahaan, hal yang menjadi pertanyaan sekarang, apa peran komunikasi marketing Islam dalam membangun budaya perusahaan?. Sejauh literatur yang penulis dapatkan, tak satupun penulis temukan sebuah literatur yang membahas secara spesifik persoalan tersebut. Akan tetapi dapat kita amati dari kedua pengertian diatas, yaitu komunikasi marketing Islam dan budaya perusahaan, sehingga kita dapat menyimpulkan poin penting dalam menjawab pertanyaan tersebut.
            Sebagaimana penjelasan penulis di awal, bahwa esensi dari komunikasi marketing Islam yaitu terletak pada landasan filosofinya sebagai langkah dasar dalam setiap implementasi aktivitas komunikasi, yang diwujudkan dalam bentuk etika dalam berkomunikasi dengan berlandaskan pada nilai-nilai Islam sebagai acuan dalam berkomunikasi. Oleh karena itu, peran komunikasi Islam dalam membangun budaya perusahaan dapat tercermin dalam visi dan misi perusahaan yang menjadi standart optimal dalam mencapai tujuan perusahaan tersebut.
            Visi dan misi  merupakan langkah awal dalam membangun budaya perusahaan yang bisa diwujudukan dalam sistem kerja karyawan. Visi dan misi yang dibangun  dengan filosofi Islam oleh suatu perusahaan, maka hal tersebut akan berdampak pada budaya perusahaan yang akan diciptakan selanjutnya. Peran komunikasi Islam dapat di ejahwantakan dalam culture yang akan menjadi standart nilai oleh perusahaan tersebut. Dengan demikian etika yang dibangun pula oleh perusahaan akan selalu bernafaskan pada dimensi nilai-nilai keIslaman yang bisa saling menguntungkan antar karyawan di lingkungan perusahaan tersebut.
D. Kesimpulan
Dari penjelasan diatas, penulis akan menyimpulkan bahwa Budaya Perusahaan Dalam Persepektif Komunikasi Marketing Islam dapat dipahami dengan beberapa dimensi pembahasan yaitu dengan memahami komunikasi dalam persepektif pandangan umum dan pandangan dalam komunikasi Islam. Selain itu dapat pula kita pahami dengan fokus pada etika komunikasi Islam sebagai dasar perilaku komunikasi marketing serta komunikasi Marketing Islam dalam budaya perusahaan.
            Dengan demikian, budaya perusahaan dalam persepektif komunikasi marketing Islam  yakni sebagai perekat sosial dalam mempersatukan anggota-anggota dalam mencapai tujuan perusahaan berupa ketentuan-ketentuan atau nilai-nilai yang berdasar nilai filosofi Islam dalam penerapan antar hubungan para karyawan, sehingga akan terjadi saling menguntungkan pada karyawan dan perusahaan.

  

Daftar Pustaka
1.      Komala Lukiati M.Si, Dra, Ilmu Komunikasi (persepekltif, proses dan konteks), 2009, Bandung:  Widya Padjajaran. 
2.      Muis A., komunikasi Islam , 2001, bandung : PT.Remaja Rosdakarya.
3.      Mudjiona Imam,  Konsep Komunikasi Dalam Al-Qur’an,  Blogspt, UII.
4.      Moeljono Djokosantoso, Dr., Budaya Korporat dan Keunggulan Korporasi, 2003, Jakarta: Gramedia.
5.      Sudayat Iskandar Ridwan, Komunikasi Pemasaran, Paper.
6.      Tasmara  Totok . H Drs, komunikasi dakwah, 1997, Jakarta: Gaya media pratama.
7.      Tika Pebundu Moh H.Drs ,M.M, Budaya Organisasi dan Peningkatan kinerja Perusahaan, 2008, Jakarta: Bumi Askara.


[1] A.Muis “komunikasi Islam” , 2001, bandung : PT.Remaja Rosdakarya. Hal, 3-4
[2]  Drs. H.Totok Tasmara, “komunikasi dakwah” 1997, Jakarta: Gaya media pratama, hal 1-3
[3]  Drs. Tommy Suprapto, M.S, “ Pengantar Ilmu Komunikasi” 2011,Yogyakarta: CAPS, hal 5-6

[4] A.Muis “komunikasi Islam” , 2001, bandung : PT.Remaja Rosdakarya, hal 65-66
[5] Ibid, 80
[6] Imam Mudjiona “ Konsep Komunikasi Dalam Al-Qur’an” Blogspt, UII.
[7] Dra. Lukiati Komala, M.Si. “Ilmu Komunikasi (persepekltif, proses dan konteks), 2009: Bandung, Widya Padjajaran,  hal 224-225
[8] Ridwan Iskandar Sudayat, “Komunikasi Pemasaran”. Paper
[9] Drs.H.Moh.Pebundu Tika,M.M. “Budaya Organisasi dan Peningkatan kinerja Perusahaan”, 2008 : Jakarta, Bumi Askara, Hal 12. 
[10] Ibid. 13
[11] Dr. Djokosantoso Moeljono, “Budaya Korporat dan Keunggulan Korporasi”, 2003: Jakarta, Gramedia, Hal 22 

Tagged as:
About the Author

Write admin description here..

0 komentar:

back to top