Hikmah dibalik Terciptnya WANITA

Posted by Amar  |  at  15.51

Ketika Adam ‘alaihis salam sendirian di syurga para malaikat, Alloh pun menciptakan pasangannya, yaitu seorang wanita. As-Sudi meriwayatkan dari Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud dan beberapa shahabat Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam lainnya, bahwa mereka bercerita : “Ketika Iblis telah dikeluarkan dari syurga dan Adam telah tinggal di syurga, maka Adam pun kesepian di dalamnya, tidak ada pasangan yang dia bisa menjadi tentram kepadanya. Ke-mudian Adam tertidur, setelah bangun di sebelah kepalanya ada seorang wa-nita yang duduk, yang Alloh ciptakan dari tulang rusuk Adam. Adam berta-nya : “Siapa kamu ?” Wanita tersebut menjawab : “Seorang wanita.” Lalu Adam bertanya lagi : “Untuk apa kamu diciptakan ?” Wanita itu menjawab : “Agar kamu menjadi tentram kepadaku.” Kemudian para malaikat melihat kepadanya dan berkata : “Siapa namanya, wahai Adam ?” Adam menjawab : ”Hawa.” Para malaikat bertanya : “Kenapa engkau namai Hawa ?” Adam menjawab : “Karena dia diciptakan dari sesuatu yang hidup.”
Hawa selaku wanita pertama diciptakan oleh Alloh ta’ala dari tulang rusuk Adam ‘alaihis salam sebagaimana sabda Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam :
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَإِذَا شَهِدَ أَمْرًا فَلْيَتَكَلَّمْ بِخَيْرٍ أَوْ لِيَسْكُتْ وَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ
فَإِنَّ الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعٍ وَإِنَّ أَعْوَجَ شَيْءٍ فِي الضِّلَعِ أَعْلاهُ إِنْ ذَهَبْتَ تُقِيمُهُ كَسَرْتَهُ وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ اسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا
“Barangsiapa beriman kepada Alloh dan hari akhir, bila menyaksikan suatu perkara hendaklah berkata yang baik atau diam. Berilah wasiat ( pesan ) ber-kenaan dengan kaum wanita, karena wanita diciptakan dari tulang rusuk, dan tulang rusuk yang paling bengkok adalah yang paling atas. Bila kamu hendak meluruskannya maka kamu bisa mematahkannya, namun bila kamu membi-arkannya maka dia akan selalu bengkok. Maka berilah wasiat ( pesan ) berke-naan dengan wanita dengan baik.” ( HR. Muslim )
gaya muslimah

Semua hadits di atas menunjukkan bahwa syurga yang didiami oleh Adam dan Hawa sebelum diturunkan ke bumi adalah syurga yang Alloh janjikan ke pada hamba-hamba-Nya yang beriman dan bertaqwa, bukan syurga yang lain atau syurga di dunia. Ini adalah pendapat Ubay bin Ka’ab, ‘Abdulloh bin ‘Abbas, Wahab bin Munabbih, Sufyan bin ‘Uyainah, Abu Hanifah dan para murid-muridnya, Abul-Qosim Al-Balkhi, Abu Muslim Al-Ashfahani dan ini adalah pendapat yang dipilih oleh Ibnu Qutaibah dan Al-Qodhi Mun dzir bin Sa’id Al-Baluthi.
Sedangkan adanya larangan dari mendekati sebuah pohon di syurga adalah semata-mata sebagai ujian dari Alloh ta’ala kepada Adam dan Hawa.
Ada pun pohon yang dimaksud di dalam ayat di atas, maka para ‘ulama berselisih pendapat. Al-Hafizh Ibnu Katsir rohimahulloh berkata : “Yang be-nar adalah Alloh ‘azza wa jalla melarang Adam dan isterinya dari memakan sebuah pohon tertentu dari pepohonan di syurga tanpa pohon-pohon yang lainnya, namun keduanya malah memakannya. Kita tidak mengetahui pohon apa yang dimaksud, karena Alloh tidak memberikan dalil kepada hamba-hamba-Nya tentang pohon yang dimaksud, baik dalam Al-Qur’an maupun dalam As-Sunnah yang shohih.”
Demikianlah, bagaimana Alloh ta’ala telah menciptakan kaum wa-nita, yaitu Hawa dan bagaimana Alloh memberikan kesempatan kepada Adam dan Hawa untuk tinggal sementara di syurga sebelum diturunkan ke dunia.
 
Menurut pedapat buya hamka bahwa kejadian wanita memang unik. Jika Adam dijadikan daripada inti pati tanah tetapi Hawa tidak dijadikan dari tanah. Ia dijadikan dari sebagian dari anggota tubuh Adam Yaitu tulang rusuk Nabi Adam. Mereka dikimpoikan walaupun dari asal-usul kejadian yang berbeda. Ini suatu kejadian manusia yang sangat aneh.

Akal mungkin menganggap alangkah baiknya jika kedua-duanya Adam dan Hawa dari kejadian yang sama yaitu tanah. Jika mereka sejenis barulah cocok jika dijodohkan. Begitulah hujah akal manusia. Dalam Islam, sebenarnya terkandung satu hikmah yang besar untuk menerangkan tentang peranan wanita itu sendiri.

Kalau Tuhan jadikan Adam dan Hawa daripada tanah, pastinya tanah itu sendiri berlainan jenis. Walaupun tanah menjadi perhubungan di antara Adam dan Hawa, namun ikatan itu tidak kuat. Ia seolah-olah menyatukan kedua makhluk yang berlainan. Jika mereka dari kejadian yang sama kemudian dikahwinkan, mereka seperti sahabat biasa saja. Sahabat biasa bukan teman yang istimewa. Jika hendak berpisah memang mudah.

Itulah di antara sebab Tuhan tidak ciptakan Hawa dari tanah seperti Adam. Allah ciptakan Hawa dari diri Adam sendiri iaitu dari tulang rusuknya. Hakikatnya , rohaniah, perasaan dan fisik mereka seolah-olah dari satu jasad yang sama. Di sinilah persatuan suami isteri itu bermula.

Barulah persatuan suami isteri itu di anggap sebagai teman setia, sehidup, semati, seperjuangan dan yang paling baik bekerjasama. Pasangan suami isteri itu tidak sempurna jika tidak ada bersama-sama. Ia bukan saja menyempurnakan dari sudut biologi tetapi juga dari sudut menjaga anak, berjuang dan berjihad. Jika ada isteri sahaja dalam pengurusan rumahtangga, belum sempurna lagi penyusunan rumahtangga itu. Kedua-duanya mesti ada barulah sempurna.

Dalam Islam, rumahtangga seolah-olah satu bagian di bagi kepada dua. Ia bukan berasal dari dua keluarga yang disatukan. Dalam Islam hendak memisahkannya sangat susah kecuali jika terdesak. Umpama satu badan, bukan mudah kalau ingin memotong sebagian anggota lain. Anggota itu adalah pelengkap kepada badan tersebut. Tanpa salah satu dari anggota itu, ia dikatakan cacat. Jika pasangan suami isteri dikatakan sebagai kawan, tidaklah memadai karena peranan suami istri terlalu banyak. Bahkan ia lebih dari hubungan seorang kawan. Peranan suami istri itulah sahabat, pembantu, penghibur, penasihat, kawan seperjuangan. Bila susah sama-sama susah dan bila senang sama-sama senang.

Ikatan yang banyak ini sudah cukup kuat bagi pasangan suami isteri. Ia tidak mudah terputus. Kalau peranan suami isteri itu banyak dan hanya satu yang terputus, ada ikatan lain yang masih bisa mengukuhkan itu banyak. Kalau ikatannya satu saja iaitu sebagai kawan tidak cukup. Ikatan itu mudah terputus. Kalau banyak peranan, hanya satu yang terputus, masih ada ikatan lain yang bisa mengukuhkan hubungan suami isteri itu. Itulah hikmah Hawa tidak dijadikan dari tanah tetapi daripada satu bagian badan Adam. Ia seolah-olah senyawa dan saling memerlukan di antara satu sama lain dalam semua hal seperti cari rezeki, jaga anak, mengatur perjuangan, mencari ilmu. Itulah hikmah kejadian wanita.

Tambahan pula jika pasangan suami isteri itu dididik dengan agama. Ikatan suami isteri itu bertambah memberi makna. Di waktu muda, pasangan suami isteri banyak membuat hubungan biologis. Inilah yang mempererat hubungan suami isteri. Tetapi jika sudah lanjut usia, hubungan biologis sudah kurang. Agamalah yang menguatkan hubungan suami isteri. Allah menuntut pasangan suami isteri dengan tuntutan-tuntutan yang mesti ditunaikan oleh kedua belah pihak demi untuk menjaga hak-hak masing-masing dalam sistem kekeluargaan.

Agama banyak mengajar pasangan manusia saling berbuat baik di antara satu lain. Ini menimbulkan perasaan kasih sayang yang mendalam sekalipun, hubungan biologis sudah kurang. Agama merapatkan hubungan suami isteri. Perkimpoian itu betul-betul dibina di atas rasa yang suci murni. Ia seolah olah kembali kepada waktu manusia itu dicipta ketika zaman Adam dan Hawa yang berasal dari satu bagian diri Adam. Mereka adalah dari satu badan.

Tanpa agama, akan hilanglah ikatan kasih sayang suami isteri karena hubungan biologis yang sudah hambar . Kalau tidak dididik dengan agama dan tidak ada ikatan biologis yang kuat, ia akan menjarakkan pasangan tersebut. Semakin tua semakin jauh. Kadang-kadang duduk serumah tetapi dua tiga hari tidak berjumpa. Ada dan tidak ada sama saja. Tetapi kalau orang dididik dengan agama tidak berlaku demikian. Itulah hikmahnya Tuhan tidak jadikan kedua-duanya dari tanah. Ia dua perkara berbeda iaitu tanah dan tulang rusuk tetapi satu nyawa dari tubuh badan Nabi Adam. Seolah-olah apa perasaan Adam itulah perasaan Hawa. Kalau apa perasaan Hawa itulah perasaan Adam.

Pasangan suami isteri bisa bercerai karena tidak ada agama. Ditambah pula dengan berbagai perkara maksiat pula. Agamalah sebagai pengikat suami isteri. Jika tidak ada agama seolah-olah hilang pengikat. Ikatan yang paling utuh ialah tali Allah. Syariatlah yang akan menjadikan pasangan suami isteri sentiasa dalam keadaan yang romantis dan harmoni serta mendapat keredhaan Allah di dunia dan akhirat sekalipun sudah tua usia perkahwinannya . Inilah hikmah kejadian manusia.

Tagged as:
About the Author

Write admin description here..

0 komentar:

back to top